Sore di hari ketiga di Kupang, semua pekerjaan kantor udah kelar. Nothing art–doing. Saya menghubungi pak Dominicus, untuk minta salinan foto-foto narsis kami sewaktu mengurut senja di pantai Pasar Panjang. Apa nyana, beliau sedang sibuk. Namun bener-bener deh, kebaikan Bapak yang satu ini begitu tak terperi. Sebelum masing-masing sadar (bukan karena pingsan lho, ya), kami sudah dijemput mobil plus driver yg disiapkan spesial (tanpa rasa bawang) untuk mengantar kami keliling kota. Aduduu.. saya jadi ga enak nih, pak Domi #pencitraan, padahhaaall enak bangeeett... :p
Lima menit kemudian, kami berenam sudah berada dalam mobil yang membawa kami menyusuri pinggiran kota Kupang. Dari obrolan dengan driver, akhirnya saya tau kalo Bapak yg mengantar kami tersebut adalah adik kandungnya pak Daniel Sahuleka, yg notabene adalah mitra kerja kantor kami di Jakarta. Olalaa... dunia bener-bener selebar daun kelor ya? Etapi, ngomong-ngomong kita mau jalan ke mana nih? *tujuan utama tetep inget doong :)
Tanpa destinasi yang jelas, kami cuma putar-putar sembari menikmati langit Kupang yang mulai tampil genit #tsahh. Yang sebentar-sebentar semburat jingganya muncul dan tenggelam tertutup awan. Suka deh liatnya!!
Akhirnya, kami sepakat menghabiskan senja di Pelabuhan Tenau. Saya yakin, dimanapun dan bagaimanapun bentuknya senja selalu tampil cantik. Dan, pasti semua setuju kaan.. dengan kata-kata saya barusan? Baiklah, kalo begitu kita melaju ke sana. Brangkaaaadd....
| Hahh, apaa? Gua monyet?? elu aja kaliii... :p |



