Aku menatap sekilas arloji yang melekat di tangan kiri. Jarum pendek menunjuk angka empat. Itu berarti sebentar lagi kamu akan tiba di rumah. Aku bisa bayangkan kamu yang sedang menuju lokasi parkir, bergegas membuka pintu mobil, menyalakan mesin seraya mengucap doa, lalu menyapa petugas parkir, dan saat ini kamu sudah berada di jalan raya, memacu kendaraan dengan kecepatan sedang, bergumul dengan kemacetan khas ibukota.
Di teras depan rumah mungil kita ini, aku menunggu kepulanganmu. Berteman secangkir teh chamomile hangat yang sedari tadi masih kupegang erat di tangan. Kusesap airnya sedikit-sedikit dan kuhirup aroma wangi renyahnya tak henti-henti. Seperti mukaku yang jua tak henti-hentinya tersenyum. Tak sabar mengabarkan berita gembira ini.
Kuelus pelan perutku yang masih rata. Aku terkikik geli. Aku belum terbiasa. Ya, ada calon kehidupan baru sedang terlelap di sana. Baru tiga minggu. Aku mengetahuinya dari dokter kandungan yang tadi pagi kutemui. Benar, ini anugrah. Ini karunia terbesar dalam hidup kami. Terang saja, karena setelah empat tahun menunggu akhirnya Tuhan mempercayakannya kepada kami.




