Showing posts with label family. Show all posts
Showing posts with label family. Show all posts

Ibu, Sebenar-benar Guruku



0 c o m m e n t s

photo credit here

Bu,

Untuk sekian kalinya aku tulis surat dan tak pernah bosannya aku menulis cerita tentangmu. Tapi ini bukan lagi ceritaku tentang kuliah atau curhatku tentang kekasih seperti yang dulu selalu aku sampaikan ke Ibu. Tapi ini cerita tentang semua kisah kita dulu, Bu. Berharap saja, aku masih bisa mengingat semuanya. Tapi tunggu dulu, kali ini Ibu tak perlu lagi membalasnya. Ibu cukup membacanya saja karena tulisanku kali ini lebih mudah dibaca dan tersusun rapi. Tentu saja, karena suratku kali ini aku ketik. Aku masih ingat tiap kali menerima suratku. Makin hari bukannya makin rapi, tulisanku malah makin ga jelas dibaca :)

Hm, entah kenapa ya Bu, dulu aku suka sekali cerita lewat surat. Padahal melalui telepon pun kita sebenarnya bisa. Katamu, biar aku terbiasa menulis. Katamu, biar suatu saat aku bisa mencipta satu cerita panjang. Aku pun berharap begitu, Bu. Nyatanya, sampai sekarang cerita-ceritaku hanya teronggok di laci meja. Tak kunjung selesai. Dan sekarang, rasa-rasanya aku sudah lama sekali tak pernah cerita lagi ke Ibu. Sepertinya, kau pun tak mau lagi baca kisah-kisahku mengingat tulisanku yang makin acak-acakan.

"Mata Ibu pedas baca tulisanmu, Nak. Mata Ibu makin menua."

Sejak itu, aku tak pernah lagi berkirim surat. Kita berbagi cerita di teras rumah, di meja dapur, atau di depan tv yang menyala. Meski, lagi-lagi aku yang mendominasi cerita, toh Ibu selalu berbinar mendengar semua ceritaku. Bu, Aku baru sadar tentang alasanmu yang mulai enggan baca kisahku. Itu karena kesehatanmu yang sudah mulai menurun.

Tuhan, ini doa saya



0 c o m m e n t s
Malam kali kedua, kita masih sibuk cengkerama. Kamu dengan wedang rondenya. Sementara aku, sibuk dengan jadwal ngerondanya. Ironis ya, Lun? *kata saya ke alun-alun.

========

2 hari sebelumnya, pkl 19.20 wib

"Mba, Ibu sakit." 

Satu pesan singkat muncul di layar ponsel. Kabar dari adik saya itu sontak membuat saya langsung kaget. Saya langsung yakin, kalo Ibu saya pasti dalam keadaan yang sangat-jauh-dari-sehat. Saya tau karena minggu sebelumnya keadaannya sudah lemah. Esoknya, saya langsung mengambil kereta pagi. Tujuan saya cuma satu: pulang dan bawa Ibu ke rumah sakit secepatnya. Ya, dan malam ini saya di sini menunggui Ibu. Semua rencana ga penting yg telah saya susun saat di Jakarta langsung saya tunda. No have have fun anymore. Saya cuma memikirkan kesembuhan ibu saya, my beloved mommy, the queen of my heart. 

========

Saat ini. Di ruangan serba putih.

Ibu, 
melihatmu terbujur tak berdaya berselang infus benar-benar buatku ga ingin lepas sekejap pun darimu. Dan ruangan yg serba putih ini, aku bener-bener takut, Bu. Ibu sendiri tau aku selalu ketakutan dengan segala hal peralatan dokter. Jarum suntik, selang infus, jubah putih, itu benda-benda yg selalu ingin kuhindari, kutakuti. Tapi, Bu, kekuatanmu melawan rasa sakit ini membuatku tegar. Membuatku berani menatap aliran infus yg bermuara ke tubuh kurusmu. 

Dan satu lagi ketakutanku, Bu. Aku belum punya keberanian untuk memberitahumu. Ya, aku tak punya keberanian untuk menyampaikan kalo...kalo kaki Ibu harus dibedah. Dan, jari jempol kaki Ibu harus diamputasi. Besok pagi. Aku ga berani, Bu. Selama ini aku belajar untuk kuat, dan semuanya itu kudapatkan darimu. 

Tapi.. ini? Bagaimana aku bisa kuat sementara Ibu sendiri tengah menguatkan diri melawan rasa nyerinya sendiri. Tuhan, berilah aku kekuatan itu. Dan kesehatan untuk Ibuku. Segera.

========

Dalam doaku,
13 November 2011
Rumah Sakit Palangbiru Kutoarjo

Karena Aku, Anak Ayah!



0 c o m m e n t s

Picture taken from here

Ayah,

Mengingatnya saja sudah membuatku berkaca-kaca. Entah, serasa ada relung yang tersentil. Mendadak ada yang menyesaki rongga tempatku bernafas. Ya, selalu saja ada rasa getar tiap kali menyebut namanya. Aku tahu alasannya kenapa. Tentu saja! Karena aku, anak Ayah. Ibu juga mengakui begitu. Barangkali karena aku yang selalu dimanjanya dibanding adikku. Barangkali karena aku anak perempuan satu-satunya. Barangkali karena, ah, entah aku tak punya cukup alasan kenapa Ayah selalu memperlakukanku dengan lembut. Meski Ayah bukanlah teman diskusiku yang tak lebih baik daripada Ibu. Meski Ayah bukanlah seseorang yang bisa mendengarkan curhatanku seperti yang biasa Ibu lakukan. Tapi, Ayah punya rasa cinta yang besar terhadapku. Wajar, kalau sampai sekarang aku masih ingin selalu bergelayut di pundaknya. Erat memeluknya hingga terbuai dalam kanvas mimpi. Tapi, lagi-lagi rasanya itu sulit sekali karena aku sudah tak tinggal bersama mereka lagi -Ayah dan Ibu- karena pekerjaanku mengharuskannya begitu. Tetapi tetap saja, aku anak Ayah!!
older post