Rasaku



0 c o m m e n t s
picture taken from here

inikah rasayang kurasa,
tersudut yang terpasung,
ketika kulihat bunda masihsaja memasak air mata,
sajian kasihsayang sejati, abadi, dan ...


*tulisan lawasmendadak kangen ibu' T_T 


ART of doing nothing



0 c o m m e n t s
Belakangan ini, kenapa ya saya lebih suka menghabiskan weekend di rumah aja. I just did an art of doing nothing, leyeh-leyeh ga jelas. Begitulah.
picture taken from here
Padahal sih, kalo jujur-jujuran saya bukan type orang rumahan lho. Dulu, pada saat masih tinggal di rumah bisa dipastikan saya pulang hanya untuk kebutuhan domestik (makan, mandi, tidur). Selanjutnya, saya pake buat 'klayapan' :D
Tapi sekarang, boro-boro mau ngelayap. Tau jalan aja, engga :D Bener-bener deh, di kota ini saya buta arah. Tiap kemana-mana ngandalin ojeg ato teksong (baca: taxi). Tapi, lagi-lagi untuk pilihan terakhir ini cuma saya andalin kalo jalanan lagi ga macet. Dan, sepertinya Jakarta ditakdirkan untuk selalu macet. Dan lagi, parahnya ntah kenapa saya kayak tersugesti kalo kemacetan akan menstimulus rasa pusing lebih cepat dibanding rasa pusing di hari-hari biasa :'(
Ya, that's why salah satu alasan kenapa saya milih tinggal di kos'an deket kantor. Selain ga macet, ga pusing, juga lebih sehat karena harus jalan kaki :)

Dear Papa: buku penuh cinta untuk ayah



0 c o m m e n t s

Dear Papa... #5

Buku penuh cinta persembahan untuk para ayah dari anak-anaknya.

Berawal dari project #DearPapa yang diselenggarakan nulisbuku dan diprakarsai sama mba Lala (@lalapurwono) & mba Meity (@MeityIskandar) yang bikin timeline saya sukses mabuk kebayang sama rayuan-rayuannya dan at least meracuni saya buat ikut-ikutan nulis. Hm, dan nyatanya saya sangat bergairah termakan racunnya :D (racun yang baik *puk puk)

Nah, di buku ini tulisan-tulisannya kebanyakan (emang dimintanya sih) lebih menyerupai surat cinta, cihuy... *mata langsung kedip-kedip genit. Jadi, bisalah dibayangin gimana wujudnya, hm.. mirip-mirip Chicken Soup for The Soul atau Gift From The Heart gitu deh (ketinggian ga sih ngayalnya?? *cepet bangunin saya). Tapiii.. terlepas dari semua itu, yang bikin buku makin keren adalah karena proyek ini bentuknya charity. Jadi, semua hasil penjualan buku dikumpulin terus disampaikan ke salah satu panti jompo yang ada di surabaya :)

Eh eh eh, tulisan saya sendiri ada di bagian tengah. Kalo ga salah sih, di halaman 58. Baca ya? Baca ya? Belinya bisa lewat nulisbuku, atau kirim via surel ke admin@nulisbuku.com

Karena Aku, Anak Ayah!



0 c o m m e n t s

Picture taken from here

Ayah,

Mengingatnya saja sudah membuatku berkaca-kaca. Entah, serasa ada relung yang tersentil. Mendadak ada yang menyesaki rongga tempatku bernafas. Ya, selalu saja ada rasa getar tiap kali menyebut namanya. Aku tahu alasannya kenapa. Tentu saja! Karena aku, anak Ayah. Ibu juga mengakui begitu. Barangkali karena aku yang selalu dimanjanya dibanding adikku. Barangkali karena aku anak perempuan satu-satunya. Barangkali karena, ah, entah aku tak punya cukup alasan kenapa Ayah selalu memperlakukanku dengan lembut. Meski Ayah bukanlah teman diskusiku yang tak lebih baik daripada Ibu. Meski Ayah bukanlah seseorang yang bisa mendengarkan curhatanku seperti yang biasa Ibu lakukan. Tapi, Ayah punya rasa cinta yang besar terhadapku. Wajar, kalau sampai sekarang aku masih ingin selalu bergelayut di pundaknya. Erat memeluknya hingga terbuai dalam kanvas mimpi. Tapi, lagi-lagi rasanya itu sulit sekali karena aku sudah tak tinggal bersama mereka lagi -Ayah dan Ibu- karena pekerjaanku mengharuskannya begitu. Tetapi tetap saja, aku anak Ayah!!

Miss you, crazy idea



0 c o m m e n t s
Belakangan ini, entah kenapa saya seringkali merasa stuck. Sementara banyak ide-ide yang mostly crazy yang terlewat, terbersit, terlintas di dalam naungan sel-sel kelambu otak saya. Tapi itu semua tetap tidak menggugah gairah saya untuk menulis. Saya lebih suka membiarkan ide-ide tersebut tetap berkeliaran di otak saya, dan sampai akhirnya saya menyadari ide-ide tersebut sudah lenyap berganti dengan ide gila lainnya.
Meski, saya tau pokok dari permasalahan ini: kemalasan saya sendiri untuk menulis. Tapi saya masih suka menyalahkan kota ini (baca: metropolitan) sebagai penyebab kemampetan ide brillian saya.
newer post older post