Jalatunda, antara Sumur Tua Raksasa dan Mitos Lempar Batu



0 c o m m e n t s

Curam dan tak terlihat sama sekali bentuk sumurnya. Meski menggunakan istilah 'sumur' Jalatunda tidaklah seperti penampakan sumur pada umumnya. Permukaan air hingga bibir sumur berjarak sekitar 100 meter dengan tingkat kemiringan 90 derajat. Hm, kalau masih merasa cukup curam silahkan melongok ke dalam sumur. Saya sih ogah, hehe.. merinding!!

Jadi, dengan tampilan tersebut, Jalatunda lebih mirip kolam besar atau rawa-rawa penuh genangan air yang berwarna hijau pekat. Tanpa melongok pun, akan tampak kalau diameter sekeliling sumurnya penuh ditumbuhi lumut bercampur tanaman perdu super rimbun. Untuk mencapai tempat ini, kita harus meniti sekitar 250 anak tangga (undak-undakan) terlebih dulu. Begitu tiba di anak tangga terakhir, terdapat sebuah bangunan terbuka mirip pendopo berukuran 2mx4m yang bisa digunakan untuk berteduh. Di situ juga terdapat tumpukan batu kerikil yang terhampar beralaskan karung beras yang dijual oleh anak-anak Dieng. Sekilas nggak ada yang menarik dari tempat ini. 


Daya tarik Jalatunda tidak lebih karena mitos dan asal muasalnya. Berdasar dugaan ilmiah, awalnya Jalatunda adalah kepundan atau kawah yang terbentuk akibat letusan gunung berapi jutaan tahun lalu. Kawah tersebut kemudian terisi air dan terbentuklah sumur raksasa berkedalaman ratusan meter. Dalam bahasa Jawa, Jalatunda berarti sumur yang besar dan luas. 

Sedangkan mitos yang melegenda dari keberadaan Jalatunda adalah barang siapa yang bisa melempar batu kerikil hingga pada batas tertentu maka keinginannya akan terkabul. Kalau laki-laki, lemparannya harus bisa melampaui sumur dan kalau perempuan, lemparannya cukup sampai ke bagian tengah sumur. Namanya juga mitos, boleh percaya boleh tidak. Toh, kalaupun lemparan kita gagal bukan karena keinginan kita tidak terkabul. Semuanya tetap tergantung pada niat, tekad, dan usaha kita demi mewujudkan keinginan tersebut. Satu lagi, kalau kerikil yang kita lempar ternyata jatuh sebelum sampai batasnya, maka ingat-ingatlah tentang teori gravitasi, hhehe. Kalau mau mencoba melempar, kita harus membeli batu-batu kerikil yang dijual oleh anak-anak Dieng tadi seharga 500 rupiah. Konon hanya batu kerikil yang dijual di sekitar lokasi yang bisa dipakai untuk melempar, jadi jangan coba-coba bawa batu kerikil dari rumah. Hm, strategi wisata yang cukup bagus ya?

Dan, apakah saya mencoba ikutan melempar kerikil? Saya justu sibuk memperhatikan pengunjung yang tengah melempar kerikil. Benar juga dugaan saya, perbandingannya adalah 1:10 bagi pengunjung yang berhasil melempar melampaui batas. Susah juga ya, bu. Kalau masih penasaran juga, datang dan silakan menguji keberuntungan di Jalatunda. Good luck :)

with all SJB's travelmates, taken from Jun's

0 c o m m e n t s:

Post a Comment

leave your footprint here and it will be my pleasure :)

newer post older post