Karena Aku, Anak Ayah!



0 c o m m e n t s

Picture taken from here

Ayah,

Mengingatnya saja sudah membuatku berkaca-kaca. Entah, serasa ada relung yang tersentil. Mendadak ada yang menyesaki rongga tempatku bernafas. Ya, selalu saja ada rasa getar tiap kali menyebut namanya. Aku tahu alasannya kenapa. Tentu saja! Karena aku, anak Ayah. Ibu juga mengakui begitu. Barangkali karena aku yang selalu dimanjanya dibanding adikku. Barangkali karena aku anak perempuan satu-satunya. Barangkali karena, ah, entah aku tak punya cukup alasan kenapa Ayah selalu memperlakukanku dengan lembut. Meski Ayah bukanlah teman diskusiku yang tak lebih baik daripada Ibu. Meski Ayah bukanlah seseorang yang bisa mendengarkan curhatanku seperti yang biasa Ibu lakukan. Tapi, Ayah punya rasa cinta yang besar terhadapku. Wajar, kalau sampai sekarang aku masih ingin selalu bergelayut di pundaknya. Erat memeluknya hingga terbuai dalam kanvas mimpi. Tapi, lagi-lagi rasanya itu sulit sekali karena aku sudah tak tinggal bersama mereka lagi -Ayah dan Ibu- karena pekerjaanku mengharuskannya begitu. Tetapi tetap saja, aku anak Ayah!!

Miss you, crazy idea



0 c o m m e n t s
Belakangan ini, entah kenapa saya seringkali merasa stuck. Sementara banyak ide-ide yang mostly crazy yang terlewat, terbersit, terlintas di dalam naungan sel-sel kelambu otak saya. Tapi itu semua tetap tidak menggugah gairah saya untuk menulis. Saya lebih suka membiarkan ide-ide tersebut tetap berkeliaran di otak saya, dan sampai akhirnya saya menyadari ide-ide tersebut sudah lenyap berganti dengan ide gila lainnya.
Meski, saya tau pokok dari permasalahan ini: kemalasan saya sendiri untuk menulis. Tapi saya masih suka menyalahkan kota ini (baca: metropolitan) sebagai penyebab kemampetan ide brillian saya.

Nikmatnya semilir angin Batu Hiu




Batu Hiu, Ciamis - Jawa Barat
Sepulang dari Batu Karas, kami melanjutkan perjalanan tanpa destinasi. Fyuh, kemana lagi ya? Entah darimana awalnya, dengan mengandalkan ketajaman indra menguping kami dari wisatawan sebelah tercetuslah ide untuk mengunjungi pantai Batu Hiu. Selain di antara kami bertiga belum ada yang pernah mengunjungi pantai tersebut, lokasinya juga searah dengan kami. Setali tiga uang, akhirnya nyampai juga di pantai yang bagi kami masih antah berantah itu.

Terletak di desa Ciliang kecamatan Parigi, kurang lebih 14 km dari Pangandaran ke arah selatan. Kami disambut sebuah gua berbentuk kepala Hiu besar lengkap dengan gigi-giginya yang runcing dan tajam. Itulah pintu masuk utama pantai Batu Hiu. Begitu langkah kaki kami menapaki ujungnya satunya, sebuah pantai berpasir hitam yang menghadap ke samudera Hindia terhampar di depan mata. Cihuy, saatnya main-main air laut lagi. Nyatanya, kali ini kami harus ekstra hati-hati. Kenapa? Karena banyak sekali ubur-ubur yang berserakan di pasir. Ugh, sial.


Rupanya di sisi pantai Batu Hiu ini juga terdapat semacam tebing karang menjulang berdampingan. Kami mencoba melewati tengahnya. Kecewa, makin ke sana karangnya makin curam dan sempit. Tertatih-tatih kami balik arah. Akhirnya, kami mencoba naik ke satu-satunya bukit di situ. Aih, panorama di sini cantik sekali karena dihiasi tumbuhan Pandan Wong, yang semula saya kira adalah pandan wangi. Mau duduk-duduk sembari baca buku favorit atau sekedar menikmati belaian angin menerpa muka kita, silakan datang ke sini. Selain itu, kita juga bisa menatap lepas ke arah pantai menyaksikan keindahan birunya air laut meliuk-liuk diantara gulungan ombak yang besar, ciri khas pantai-pantai selatan. Nah, karena adanya ombak yang besar inilah kenapa saya sama sekali tak menemui satu orang pun yang berenang di kawasan ini. Forbidden!!

Oya, menurut cerita penduduk setempat, dulunya di ujung bibir pantai yang mengarah ke laut terdapat karang yang sangat mirip dengan ikan hiu. Sayangnya, gara-gara terkikis ombak pantai yang ganas lama-kelamaan wujudnya tidak menyerupai ikan hiu lagi. 

show off dengan baju barunya masing-masing :)

INFORMASI BIAYA:
Berikut harga tiket yang diterapkan di objek wisata Batu Hiu per November 2010
  • Pejalan kaki Rp. 2.500,- 
  • Sepeda motor Rp. 5.900,-
  • Kendaraan jenis jeep/sedan Rp. 14.200,-
  • Kendaraan jenis carry Rp. 27.200,-
  • Kendaraan penumpang besar Rp. 40.200,-
  • Bus kecil Rp. 52.700,-
  • Bus sedang Rp. 79.500,-
  • Bus besar Rp. 130.500,-

pashmina pertama



0 c o m m e n t s
yess, this is it. my first time wearing a pashmina, yuhuuu.... 

jadi ceritanya selama ini saya yg udah terbiasa pake kerudung yg model square (yg konvensional itu looh..) pengin nyobain pake pashmina. kata temen2 sih, bentuk muka saya ini oval jadi cocok-cocok aja pake pashmina. hihiii... baju mendadak ga muat deh :D

so, voilaaa... 
karena saya ga mungkin ngantor pake pakaian yg kasual nan informal (yg sebenarnya sangat gue banget ituuh...), akhirnya ada kesempatan juga pas lagi ada kegiatan ke Kupang, bulan kemarin. lah, namanya juga coba-coba yg ada akhirnya justru mawut bin acak adul, ga ada rapinya sama sekali. even, beberapa helai rambut saya menjuntai dengan leluasa. hhehe... tapi paling tidak, saya udah usaha lah ya dan cukup terbilang sukses untuk menunjukkan ke temen-temen kalo ternyata saya bisa juga pake pashmina.

*kalimat terakhir abaikan aja kalo menganggu pendengaran dan penglihatan sekalian :))


location: hotel kristal - KUPANG
motion cathcer: nay

xoxo,

Batu Karas: Konon, Surga bagi Peselancar



0 c o m m e n t s

Gegara gagal berputar-putar mengelilingi Green Canyon yang rupanya hari dimana kami datang ke sana justru ditutup akibat hujan lebat pada malam sebelumnya, kami pun lanjut ngetrip ke pantai Batu Karas, pantai yang belum sekalipun kami dengar namanya. Akhirnya, dengan mengandalkan google maps yang sinyalnya hidup enggan mati pun tak mau, sampailah kami di pantai tersebut.

Terletak kurang lebih 40 km dari Pangandaran atau membutuhkan sekitar 1 jam perjalanan dari Pangandaran, pantai Batu Karas boleh dikata salah satu surga bagi peselancar. Benar juga sih, begitu kami sampai di sana, Batu Karas nyatanya lebih dari sekedar perpaduan pantai yang cantik dan harmonis yang tidak hanya menawarkan air yang yang tenang tetapi juga gelombang yang menantang, sehingga cocok buat berenang atau berselancar. Pantai ini juga punya semacam teluk kecil yang landai sehingga memudahkan peselancar nggak perlu capek-capek lagi mendayung papan selancarnya menuju titik awal gelombang.



Oya, di sini bukan hanya berselancar aja yang bisa dinikmati. Buat saya yang nggak bisa selancaran, ―boro-boro main selancar, renang aja nggak bisa― masih bisa menikmati atraksi lain. Mau pilih mana, ada permainan jet ski, banana boat, atau naik kuda sepanjang pantai. Kalo nggak minat? Tabok, hehe. Silakan leyeh-leyeh di warung-warung tenda pinggir pantai, seperti yang dilakukan oleh teman saya saat kami (saya dan satu teman saya yang lain) sedang asyik bermain air.

newer post older post