Showing posts with label journey. Show all posts
Showing posts with label journey. Show all posts

Mie Ongklok, kuliner yang bikin lidah lumer



2 c o m m e n t s
Berkunjung ke suatu daerah nggak akan afdol kalo nggak sempet nyicipin sajian kuliner khas daerahnya. Begitu juga pas saya backpacker-an bareng temen-temen SJB ke Dieng Plateau (perbatasan kab. Wonosobo dan kab. Banjarnegara) pada bulan kemarin. Nah, berhubung arah pulangnya melewati kab. Wonosobo (kami naik bus), jadi kami menyempatkan untuk mencicipi masakan kuliner yang konon menjadi raja kuliner di daerah ini, Mie Ongklok.

mie ongklok khas Wonosobo
sate sapi, teman makan mie ongklok

Dalam bahasa Jawa, kata "ongklok" berarti kocok. Kenapa harus kata itu. Why? Saya sendiri juga ga ngerti. Makanya, pas nyampe warung, saya sempet perhatiin. Rasa penasaran terjawab juga deh akhirnya. Rupanya, masakan unik ini merupakan kombinasi dari mie, sayur kubis, dan daun kucai -tanpa ada sayur sawi seperti kebanyakan mie-mie lainnya. Cara merebusnya itu antara mie, sayur kubis, dan daun kucai disatukan dalam satu wadah semacam saringan bambu, dan tadaaa... adonan tersebut kemudian diongklok-ongklok alias dikocok sampai berulang-ulang sembari dicelupkan ke dalam air mendidih. Lah, kalau begitu sekilas jadi mirip cara bikin mie ayam dong yaa?

Jalatunda, antara Sumur Tua Raksasa dan Mitos Lempar Batu



0 c o m m e n t s

Curam dan tak terlihat sama sekali bentuk sumurnya. Meski menggunakan istilah 'sumur' Jalatunda tidaklah seperti penampakan sumur pada umumnya. Permukaan air hingga bibir sumur berjarak sekitar 100 meter dengan tingkat kemiringan 90 derajat. Hm, kalau masih merasa cukup curam silahkan melongok ke dalam sumur. Saya sih ogah, hehe.. merinding!!

Jadi, dengan tampilan tersebut, Jalatunda lebih mirip kolam besar atau rawa-rawa penuh genangan air yang berwarna hijau pekat. Tanpa melongok pun, akan tampak kalau diameter sekeliling sumurnya penuh ditumbuhi lumut bercampur tanaman perdu super rimbun. Untuk mencapai tempat ini, kita harus meniti sekitar 250 anak tangga (undak-undakan) terlebih dulu. Begitu tiba di anak tangga terakhir, terdapat sebuah bangunan terbuka mirip pendopo berukuran 2mx4m yang bisa digunakan untuk berteduh. Di situ juga terdapat tumpukan batu kerikil yang terhampar beralaskan karung beras yang dijual oleh anak-anak Dieng. Sekilas nggak ada yang menarik dari tempat ini. 


Daya tarik Jalatunda tidak lebih karena mitos dan asal muasalnya. Berdasar dugaan ilmiah, awalnya Jalatunda adalah kepundan atau kawah yang terbentuk akibat letusan gunung berapi jutaan tahun lalu. Kawah tersebut kemudian terisi air dan terbentuklah sumur raksasa berkedalaman ratusan meter. Dalam bahasa Jawa, Jalatunda berarti sumur yang besar dan luas. 

Penimbangan Beach: a lovely sunset from North Bali



4 c o m m e n t s
my first step ^_^


SUNSET,
WHEN A PICTURE SPEAKS A THOUSAND WORDS
WHEN A MANTRA BEGINS TO BUBBLING
I HAVE BEEN DROWNED INDEED

photo credit: Fifi
the magnificent of Penimbangan temple
 a lovely bike which carried me here
quiet, clean, and neatly  *tumb up
having a glass of cappuccino and a roasted corn *slurp :')

SINGARAJA, Juni 16th 2012
Part of itinerary that I already plan before

love love love,

Lovina: Chasing the Dolphins



2 c o m m e n t s
dolphin monumen
"Gud mowniiiiing, Singaraja..."

Wohho, last day I stay here. Time to wake (so) early and go straight to the impressive Lovina beach, 12 km stretch of coast to the North West of Singaraja that comprosed of several narrow stretches of black volcanic sand. We are going to this lovely beach for dolphins searching ¾and chasing¾ with a boat trip out in a traditional jukung boat (kind of a wooden boat) during the sunrise time. And yess, in every morning they gather: the sight of the sunrise blended with the dolphins leaping out of the sea. How awesome!!

So, let me tell you the story. Accompanied by my cousin, Fifi, sekitar pukul 7 lewat 20 menit (wita) kami berdua sudah berada di atas jukung, siap mengejar lumba-lumba. Ya, menurut sepupu saya yang kebetulan tinggal di Singaraja ini, untuk bisa melihat lumba-lumba dengan jelas itu kita harus benar-benar mengejarnya (dengan sampan tentu saja), kecuali kalau kita pas lagi beruntung, salah satu atau dua dolphin bisa mendadak loncat di samping sampan. Horee. Dalam hati saya berdoa, semoga pagi ini kami termasuk dalam golongan yang beruntung itu. Amiin :)  

"Hi, dolphins... I'm comiiiing. Please, don't hide!!

Kami bertiga (Fifi, Bli si kapten sampan, dan saya) melaju dalam satu jukung mengarah ke tengah lautan. Oya, dalam sampan kami sebenarnya bisa dinaiki 5 hingga 6 orang. Tapi, berhubung kami lagi maruk dan kenyataannya sudah booked pada malam sebelumnya, jadilah sampan itu kami naiki sendiri. Puas-puas deh bisa jumpalitan di sampan, hhihi. Untuk sampan ini kami sewa cuma 80rb buat berdua. Harga sewa yang sangat worth it kalau melihat dari harga sewa sampan yang rata-rata berkisar antara 60rb hingga 80rb per orang. Waoww.. mata saya yang sudah besar makin melebar. Bukan karena menawar, rupanya sepupu saya sudah sengaja kenal baik dengan pemilik sampan yang saat itu kami naiki. Dan, asyiknya lagi ngga ada batasan waktu, mau sejam, dua jam, atau lebih ngga ada masalah. Cihuy banget yaa.. ^^

muka putih vs liburan



0 c o m m e n t s
photo credit here
"Hei...," salah seorang rekan kantor tiba-tiba sudah ada di samping saya yang tengah sok sibuk berjibaku dengan pekerjaan. Lambat hening mengamati muka saya. Hm, any wrong with my face?

"Tumben muka kamu keliatan lebih putih. Pake produk pemutih ya?" (*kata-katanya iklan banget ya?)

Whaaatt!! Bukannya lantas suka, justru saya jadi heran. "Masa iya sih," batin saya. Gara-gara itu, saya jadi teringat juga kata-kata salah seorang teman lama beberapa waktu lalu. "Nin, selama ini kamu pake treatment dokter siapa?" Saat itu saya hanya tertawa karena selain ngga kenal dokter kecantikan mana pun, saya juga paling ogah kalau disuruh menemui dokter. Yup, bukan kenapa-kenapa sih tapi sebenarnya lebih karena saya paling takut lihat jarum suntik, kecuali kalau dokternya ganteng kali ya? *hallah :))

Nah, selama ini saya hanya pakai produk-produk pelembab yang biasa tersedia di minimarket mana pun. Jadi, telling the truth, saya merasa janggal kalau misalnya ada yang bilang muka saya jadi lebih putih daripada biasanya. Hihi, muka saya ini kan dasarnya emang eksotik coklat gituuh.. dan makin perfect gosongnya gara-gara keseringan mandi matahari. Hhe, ngga ada yang percaya kan? Saya juga. Kan saya tau banget kondisi muka sendiri yang aslinya emang beneran coklat gosong. Tadi sih, kalimatnya aja yang dialusin..  *aspal kali dialusin >__<

Gosh, I just got a clue. Matahari. Pantai. Ya, saya teringat kapan terakhir kali maen-maen ke pantai. Awal tahun. Itu artinya sudah 3 bulan lebih kulit saya ini tak bersapaan dengan panas, air laut, dan err.. sinar uv yang ganas itu. Sebenarnya sih, sebulan kemarin saya baru aja mengunjungi Bali karena urusan pekerjaan. Tapi ngga sempat menikmati pantai neither sunrise nor sunset. Saat itu saya hanya menyempatkan duduk-duduk di pinggir pantai Sanur. Itu pun sudah lumayan larut malam, sekitar pukul 10 waktu setempat.

Menyesal karena ngga sempat ke pantai? Enggak juga sih karena saya sudah beberapa kali ke Bali (*sombongnyaah...) dan pahitnya yang saya kunjungi cuma seputaran kotanya aja plus Kuta, plus Sanur, plus Nusa Dua, pluuus...  *stop it, itu mah sama ajaa, grrr  -__-. Etapi beda cerita loh, kalo misalnya yang dikunjungi itu Ubud atau daerah-daerah kalor (baca: utara gunung). Dijamin saya ngga bakal nolak dan pasti betah sekali sampai lupa pulang :)

Memang sih, dulu nyaris tiap bulan saya maen-maen ke pantai. Mana aja. Karena di pantai, saya bisa teriak-teriak sendiri, ketawa-ketawa sendiri, melamun emang sendiri. Apa pun. Et voila.. penat saya seketika berkurang.

Dan, kalo saat ini ada beberapa teman yang komen kalo muka saya keliatan lebih kinclong putih nan bersinar itu fakta (*pencitraan banget ga sih, iniiih..). Bukan karena saya pakai produk pemutih merk anu ato perawatan di klinik kecantikan di tempat dokter anu, melainkan karena memang saya udah lama ngga liburan. Dan, muka putih bersih ini menyadarkan saya kalau saat ini sudah seharusnya saya berlibur. Yuhuu, traveling, ngetrip, backpacking, jali-jali, ato istilah laen apapun yang intinya adalah LIBURAN.

So, where is my ticket? I need now. 

Kintamani: taking a deep breath



0 c o m m e n t s
Batur Lake

Putting aside the city's hustle-bustle and relaxe taking a deep breath of fresh air, Kintamani is the sweet choice for letting the time goes and runs. Located in Bangli regency, Kintamani offers a greeny beautiful scenery with magnificent view of Batur volcano and the lake. Batur volcano it self has erupted about 24 times during early year 1800. Many damages happened along it eruption. It's seen from the lines of larvae are still seem obvious around the volcano. Meanwhile, the lake is the largest one in Bali.

Kintamani area is about 160 km2 wide with 15.000 people live around it. They work as farmer and fisherman. And because of the blooming of tourism sector in Kintamani, some of them turned the work into a seller, do a tatto service, rent villas or restaurant business. And starting from Rp. 70.000 - RP. 150.000 per person, you already enjoy the meal. Have an aromatic lunch :))

Batur Volcano







with my travelmate: rima & rista

empat jam di Semarang (1)



0 c o m m e n t s

had a thousand doors, that's the reason named "Lawang Sewu"
views from the second floor

as far as the eye could see: DOOR


looks so quiet and sounds so spooky -__-

me and the story will be told later  :)

Beta Su Pi Kupang, Kaka...



0 c o m m e n t s
Monumen Sasando
"Selamat datang di kota Kasih, Kaka.." sapa gadis-gadis cilik itu kepada kami. 

Ngga nyangka!! Saya bisa bertandang ke kota ini. Dalam benak saya, pastilah Kupang itu kota yang panas dengan pemukiman yang jarang penduduk. Eh benar juga, begitu kaki menyentuh bandara El Tari, kepala saya mendadak langsung gatal-gatal gegara kena sengatan matahari. Belum lagi, kaki saya yang hanya beralaskan sepatu terbuka― dalam hitungan menit langsung belang-belang. Oya, ralat. Bukan mataharinya yang panas, tapi udaranya. Yep, udara Kupang memang panas.

"Hm, barangkali itu pula kali ya, yang bikin penduduk sini kebanyakan jadi gelap-gelap kulitnya." *langsung ditoyor warga sekampung. Maaf, bukan maksudnya rasis yaa, tapi buat saya sendiri sih jelas ada kaitannya antara udara yang panas dan kulit yang gelap. Saya kan sering ngalamin, muka langsung gosong gara-gara panas-panasan tanpa sunscreen padahal cuma sekitar 15 menitan, dan nyatanya itu cukup sukses buat penggelapan kulit. Apalagi buat yang selamanya tinggal di kota ini? Ups, ini kenapa saya malah makin ngaco ceritanya. #salahfokus

Oke, jadi dalam perjalanan menuju hotel, tempat kami nginap, lagi-lagi saya dibuat heran (lagi). Ini kenapa dari tadi yang diliat kanan kiri cuma semak-semak pepohonan gersang doang, di mana pemukimannya? Sedari dulu bentuk-bentuk rumah penduduk menjadi salah satu daya tarik tersendiri buat saya tiap kali ada kesempatan bepergian ke daerah, jadi wajar dong kalau saya penasaran? Tidak begitu lama, rasa penasaran itu terjawab sudah. Satu per satu rumah penduduk mulai nampak. Hahh?! Lagi-lagi saya kaget dan.. heran begitu liat atap rumah-rumah tersebut: S-E-N-G. Bagaimana mungkin, mereka bisa tinggal di dalam rumah tersebut sementara udara di Kupang sendiri sangat panas. Sukses bikin saya geleng-geleng kepala. *tariiiik, mang..

Menikmati udara perkotaan yang mulai terasa panas, menunggu kejutan apalagi yang akan saya temui di jalan. Sepanjang perjalanan driver yang sudah terlihat sok akrab mulai cerita tentang kondisi geografis Kupang, terletak di atas hamparan batu karang yang tandus. Sebagian rumah menggunakan tembok kayu dan seng, dan hanya sebagian kecil yang sudah menggunakan tembok beton. 

Begitu masuk kota, kami disambut tugu kampus Universitas Nusa Cendana (Undana), yang konon kampus terbesar di kota ini. Sayangnya, mobil melaju terlalu kencang. Gagal deh niat saya buat memotretnya.

Nah, kalau ngobrolin tentang kuliner khas Kupang nih, ada baiknya kalau mencoba yang namanya Pisang Gepe, pisang bakar yang disiram air gula aren dan kacang tanah tumbuk. Konon, pisang ini banyak dijajakan di sepanjang pantai Lasiana dan dihargai 1000-2000 rupiah per biji. Berhubung saya nggak ada waktu buat bermain-main ke pantai Lasiana, jadi saya cukup mencicipinya yang bebetulan ada yang jual di deket-deket tempat kami nginap. Makanan ringan (err.. yakin nih cuma sebatas ringan?) ini merepresentasikan pencaharian keseharian masyarakat NTT sebagai penghasil pisang. Hm, sedaaapp..

late dinner at Restaurant Nelayan ;)

Kupang sukses bikin paras makin seksi nan eksotis *uhukk
Location: Hotel Kristal, KUPANG

Beta su pi Kupang, Kaka.... :))

Batu Karas: Konon, Surga bagi Peselancar



0 c o m m e n t s

Gegara gagal berputar-putar mengelilingi Green Canyon yang rupanya hari dimana kami datang ke sana justru ditutup akibat hujan lebat pada malam sebelumnya, kami pun lanjut ngetrip ke pantai Batu Karas, pantai yang belum sekalipun kami dengar namanya. Akhirnya, dengan mengandalkan google maps yang sinyalnya hidup enggan mati pun tak mau, sampailah kami di pantai tersebut.

Terletak kurang lebih 40 km dari Pangandaran atau membutuhkan sekitar 1 jam perjalanan dari Pangandaran, pantai Batu Karas boleh dikata salah satu surga bagi peselancar. Benar juga sih, begitu kami sampai di sana, Batu Karas nyatanya lebih dari sekedar perpaduan pantai yang cantik dan harmonis yang tidak hanya menawarkan air yang yang tenang tetapi juga gelombang yang menantang, sehingga cocok buat berenang atau berselancar. Pantai ini juga punya semacam teluk kecil yang landai sehingga memudahkan peselancar nggak perlu capek-capek lagi mendayung papan selancarnya menuju titik awal gelombang.



Oya, di sini bukan hanya berselancar aja yang bisa dinikmati. Buat saya yang nggak bisa selancaran, boro-boro main selancar, renang aja nggak bisa masih bisa menikmati atraksi lain. Mau pilih mana, ada permainan jet ski, banana boat, atau naik kuda sepanjang pantai. Kalo nggak minat? Tabok, hehe. Silakan leyeh-leyeh di warung-warung tenda pinggir pantai, seperti yang dilakukan oleh teman saya saat kami (saya dan satu teman saya yang lain) sedang asyik bermain air.

Apa rasanya kalau Green Canyon ditutup?



0 c o m m e n t s
Setelah perjuangan mendapatkan penginapan di kawasan pantai Pangandaran dan akhirnya kami bisa tidur lelap, sesuai dengan planing awal kami akan melanjutkan trip ke Green Canyon. We're soooo excited lah ya, secara kami bertiga belum pernah ke tempat tersebut sebelumnya. Keriaan memecah. Sepanjang jalan, Benkur terus-terusan senandungin lagu-lagunya Bob Marley. Fany sibuk dengan kamera poketnya, sementara saya asyik merhatiin orang-orang yang lagi khusyuk main layang-layang di sepanjang pinggir pantai. 


Begitu nyampe Green Canyon, kami langsung dibuat hopeless. Gimana nggak, begitu mau beli tiket di loketnya udah terpampang tulisan yang pake kapital dan di-bold: TUTUP. Begitu menengok ke arah sungai besar yang nantinya akan kami lewati menuju kawasan Green Canyon, baru deh ketauan alasannya. Beberapa perahu dibiarkan terombang-ambing dalam tambatan tanpa terlihat ada pemiliknya. Air sungai yang biasanya berwarna ijo bening nan jernih, pada saat kami datang justru berwarna coklat dan nyaris meluap. Speechless.. 


Pangandaran: Lost Trip



0 c o m m e n t s
nekat berangkat tanpa destinasi

Sepertinya satu keniscayaan ya, bisa menghabiskan libur 3 (tiga) hari tanpa aktivitas keluar rumah. Belum lagi harus mengatasi perasaan gelisah, susah tidur, dan jantung yang berdebar-debar parah begitu ketemu kalender yang di-bold warna merah. Iiish, tanda-tanda mulai terjangkit trip addicted. Nah, daripada penyakit makin kumat nggak ada juntrungannya finally saya yang (memang sudah lama) punya planing untuk ngetrip ke Green Canyon, Jawa Barat terpenuhi juga ketika libur perayaan Waisak. Horrey, dan nyatanya saya nggak sendiri. Ada 2 (dua) temen kantor yang menemani, Bengkur dan Paneh. Sebelumnya, si Bengkur ini juga pernah ikutan pas saya lagi ngetrip ke pulau Tidung.
"Ah, dari pertama kenal lu maunya juga ngikut mulu, Benk.
Cuma ke toilet doang yang nolak..."  LOL


Jadi, kami sepakat berangkat siang hari selepas dzuhur dari Bekasi. Kemudian, entah kenapa sepertinya istilah 'nyasar' selalu erat melekat dalam daftar kamus perjalanan saya. Coba aja, masa begitu keluar dari tol Cipularang kami udah nyasar. Salah ambil jalur. Yeiks, beruntunglah kami segera sadar kalo mobil kami salah arah, jadi bisa secepat itu pula kembali ke jalan yang benar.

Tidung Island: Behind the Joy



0 c o m m e n t s
Yess, this is the joy..!! I thought it in the very-very first time. Such an another journey of backpacking sabtu-minggu. Seruuu secara ini baru pertama kalinya buat kami.. ehm.. sebentar sepertinya ada yang aneh dengan kata 'kami' ini *dilirik massa*. Okay, fine! This is the joy because it's my first trip to Kepulauan Seribu (a thousand island). So, I was sooo excited along the trip sampai akhirnya saya harus mengalami beberapa kejadian luar biasa di sana. Euww...  :'( 

and the joy has just begun... 

Itu tadi keseruan kami eh saya yang pertama, pertama kalinya saya bisa mengunjungi kepulauan seribu. Certainly, it's a honor for me.. (*dadah-dadah a la miss endonesiah). Tapi, sepertinya keseruan saya itu ga sebanding dengan munculnya kejadian-kejadian naas – istilah saya untuk mengalihkan kalimat 'peristiwa memalukan'  yang datangnya bertubi-tubi kemudian. 

Firstly, pada saat mau menuju ke kapal yg kami tumpangi, mungkin karena saking excited-nya saya yg ambil posisi jalan paling depan (huehe, serasa komandan regu saya), tatapan juga ke depan, hup huup... saya lompat-lompat kecil berusaha menghindari genangan air sisa hujan semalam dan akhirnya... arrrrgghh... saya terjatuh, terpeleset, dan terjungkal pas di jembatan dermaga pantai Marina dimana lokasi itu sangat strategis buat ditonton #pfftt (kombinasi yg embarassing sekali kan yaa, terlebih saat saya menyadari berpasang-pasang mata pasti melihat adegan saya jatuh tadi dan saat itu sedang berusaha menyembunyikan tawanya). Dan seandainya kejadian tadi itu dibuat slow motion, saya pasti langsung bertanya: kenapa hidup saya pagi itu naas sekali, Tuhan? Dan Tuhan (barangkali) akan menjawab: makanya punya badan jangan kegedean.. -___-

"Makanya mba, kalau jalan itu pake mata," saat saya sudah tersungkur dan terpuruk pun, bukannya nolongin eh si Bemboy malah sempat-sempatnya kasih nasehat yang untuk saat itu sedang sangat tidak saya butuhkan. Pake nyengir lagi. "Ini jalannya juga pake mata kalee, mata kaki." *skip*

the one & the only jeans bonus noda lumut :(

Pokoknya mood bergembira ria langsung ilang deh hanyut di air laut, begitu mikirin nasib saya di sana gimana nantinya. Lah siapa yang ga bete coba, secara jeans yang melekat di badan saya itu the one and the only jeans yang saya bawa (namanya juga backpacker kan?). Lebih-lebih pas ngeliat kondisi jeans yang begitu basah, lembab, dan banyak noda lumut di sana sini. Err, kalo bisa renang, udah nyelem deh saya :'(

Tidung Island: First Day and Very First Time



0 c o m m e n t s
Juni 2010, jam setengah tujuh pagi kami berenam sudah berada di pantai Marina Ancol, menikmati semesta pagi seiring terbitnya mentari dengan mata terkantuk-kantuk. Oya, tadinya kita bersepuluh sih benernya, tapii berhubung ada teman yang lagi menjalankan tugas negara yang sebenarnya ga bisa ditinggal akhirnya kami merucut jadi 4 (empat) orang *busyeett.. beruntunglah, kami dapat teman baru lagi 2 orang, jadi kami ga begitu-begitu amat kecewanya. Sekarang kami berjumlah total 6 (enam) orang. Brangkaaaadd, cuuss...

hello sunrise....
Jam 7:30 waktu indonesia bagian pantai Marina Ancol, kami berlayar menuju pulau Tidung. Well, itulah kali pertamanya saya naik kapal terlama seumur-umur *noted* Jam 10:30 kami sudah sampai di pulau Tidung. Asyiiik, kami berenam bisa menempati 1 (satu) rumah. *girang *loncat-loncat di kasur :D 

Hari pertama kami pakai buat ngaso-ngaso sebentar, orientasi lingkungan, dan kenalan sama pemilik rumahnya. Dan seperti biasa saya sudah lupa namanya *maafff.. Setelah dzuhur, kami mulai petualangan pertama kami, SNORKLING. Seru banget noraknya, secara itu pertama kalinya saya bersnorkling. Nah, bagaimana dan seperti apa kehebohannya bisa diikuti ceritanya di sini. Ga nyesel kok, palingan cuma mual muntah doang. Hihii...
older post