Showing posts with label beach. Show all posts
Showing posts with label beach. Show all posts

Outstanding Padang-Padang Beach



0 c o m m e n t s


What's on your mind everytime heard about Padang-Padang beach? Eat, Pray, Love the movie? Julia Robert? Yup, great. Dalam film tersebut, memang terdapat beberapa adegan Julia Robert di pantai ini. Then, what's special from this beach? Begitu saya ajak ke sini, salah satu teman saya langsung komentar, "Buset, kayaknya kita salah pilih pantai nih. Isinya bule semua, jadi malu sendiri." Nah, sementara di luar sana masih banyak orang yang penasaran dengan keberadaan pantai ini, eh ini malah malu. What's happened, dude? Hm, tapi ada benarnya juga sih. Berada di pantai ini serasa bukan lagi berada di Indonesia karena prosentase wisatawan lokal yang mengunjungi hanyalah sekitar 20% dibanding bule-bule yang tengah goleran berjemur, berenang, atau yang lagi asyik berselancar. Boleh jadi karena lokasinya yang tersembunyi dan terpencil sehingga kurang banyak diminati wisatawan lokal kali ya?

So, what's special? Ok, see. Padang-Padang adalah salah satu pantai eksotik di Bali, berlokasi di Jimbaran dan tidak seberapa jauh dari pantai Dreamland. Ombaknya yang kecil sangat cocok buat berenang. Meski begitu, banyak juga bule-bule yang surfing di sini. Mereka harus berenang agak ke tengah dulu untuk mendapatkan gulungan ombak yang lebih besar. Berada di sini, it seems like having swimming pool with exotic cliffs scenery. Dengan air lautnya yang jernih hijau kebiruan dan landai, Padang-Padang merupakan kawasan pantai yang lebih sempit dibandingkan Dreamland dengan dikelilingi tebing tinggi nan kokoh. Pengunjungnya juga lebih sedikit. Dan, kalau datangnya agak sorean, kita akan dapat bonus matahari tenggelam yang menawan dari pantai sini. Barangkali karena keunikan lokasinya tersebut serta masih sepinya pengunjung yang mampir ke sini pula yang bikin Michael Learn to Rock (MLTR) bela-belain bikin video klip di pantai ini. Who knows?

Pantai Indrayanti: Pesonanya Bikin Hati Tersihir



0 c o m m e n t s
"Wooow... Ini sih Dreamland banget!!"

Pekik saya begitu melangkahkan kaki memasuki kawasan pantai Indrayanti. Pasir putihnya yang bersih dengan deretan payung-payung berwarna-warni yang hanya berjarak sekitar 7 meter dari bibir pantai. Belum lagi, batu-batu karang yang menjulang tinggi dan besar mengapit di kanan kiri pantai. Kemudian, mentang-mentang udah pernah mengunjungi pantai Dreamland, *langsung keluar sombongnya* saya langsung aja membandingkan antara kedua pantai tersebut. Yang membedakan kalau ini bukanlah Dreamland adalah keberadaan gazebo-gazebo yang berjejer rapi ¾baik yang lesehan ataupun yang pake bangku panjang¾ sehingga turut menyemarakkan keindahan Indrayanti. Dan, yang pasti ini bukanlah di Pecatu Bali melainkan di Tepus, Gunungkidul, Yogyakarta. Percaya deh, ini serupa surga yang tersembunyi dari dunia luar.

Indrayanti, adalah pantai yang mulanya dikelola oleh pihak swasta. Pantai yang dikenal wisatawan semenjak 2 tahun belakangan ini, sebenarnya adalah pantai Pulang Syawal yang lambat laun lebih dikenal sebagai Indrayanti, diambil dari nama pengelola pantai, Indra dan Yanti.

Seiring perkembangan kawasan pantai, sepertinya pengelola pantai ingin memberikan kesan positif bagi pantai Indrayanti sebagai pantai yang bersih, nyaman, dan berfasilitas lengkap. Hal ini tampak dengan adanya tulisan larangan membuang sampah sembarangan. Bahkan, pengunjung pantai yang diketahui membuang sampah sembarangan bakalan dikenai denda sebesar 10.000 rupiah. Wow, it's really cool, kan ya? Jadi, nggak usah heran kalau di sudut-sudut tertentu terdapat beberapa keranjang sampah. Tapi lagi-lagi, buset deh kelakuan orang-orang Indonesia nih, masiiiiih.. ada aja buang sampah sembarangan. Geregetan!!! Mungkin karena nggak adanya petugas juga sih yang langsung mengawasi kebersihan pantai, jadi yang buang sampah sembarangan tadi merasa aman-aman aja. Meski begitu, saya tetap salut kok dengan kebersihan kawasan pantainya.


[Photo] Sweet Escape [at] Indrayanti



0 c o m m e n t s



All photos taken by Dodo (other travel buddie) and edited by me, my self 
Wait for the complete tale!!

Location:
Pantai Indrayanti
Gunungkidul - JOGJAKARTA

Uluwatu: Hidden from the pursuit of monkeys



2 c o m m e n t s

Uluwatu terletak di ujung selatan pulau Bali mengarah ke samudera Hindia. Kita hanya membutuhkan waktu sekitar 20 menit kalo ditempuh dari bandara Ngurah Rai. Daya tarik utama dari pantai ini adalah keberadaan pura Luhur Uluwatu yang bertengger kokoh di ujung tebing batu karang terjal yang menjorok ke arah laut dengan ketinggian sekitar 50 meter. Sementara di bawahnya terhampar panorama laut yang berwarna biru bening disertai hantaman ombak yang menghasilkan buih-buih putih yang sangat cantik. Amboiii..

Untuk bisa memasuki kawasan wisata ini, pengunjung yang mengenakan celana atau rok pendek wajib mengenakan sarung (berwarna ungu atau biru) dengan selempang (berwarna kuning) yang disewakan tepat di samping lokasi pembelian tiket masuk. Meski nggak ada anjuran, namun alangkah baiknya kalau mengunjungi tempat ini pada sore hari. Selain dapat menikmati keindahan panorama matahari tenggelam, kita juga akan disuguhi pementasan tari Kecak di pelataran pura. Fantastik! Selain itu, sekitaran pantai juga memiliki ombak yang cukup besar sehingga saat menantang buat surfing. Bahkan, setiap tahun event berlevel internasional selalu diadakan di pantai seputaran Uluwatu ini. Fantastic!!

Sayangnya, selama dua kali mengunjungi tempat ini saya belum pernah sekalipun berkesempatan menikmati kedua keindahan tersebut. Nah, lohh. Tentu saja, karena pada saat ke sana selalu di saat matahari sedang terik-teriknya. Mesti luluran sunscreen dulu deh saya. Uhukk.

Dreamland Beach, You're sooo stunning!



0 c o m m e n t s






Dreamland, such another exotic paradise beach in Bali. Sepertinya begitu ya, menurut pendapat orang-orang yang suka membanding-bandingkan antara Kuta dan Dreamland. Bahkan, sebagian ada yang menyebutnya sebagai New Kuta Beach. Really? Dari 2 tahun yang lalu pun tiap kali mengunjungi Bali pasti ada aja teman yang bilang, "Jangan lupa ke Dreamland ya?" Memangnya sebegitu paradise-nya ya sampai segitu hebohnya orang-orang nyuruh saya ke Dreamland. Saya yang dasarnya pencinta pantai awalnya nggak begitu niat-niat banget buat ke Dreamland. Menurut saya pribadi, Dreamland jadi biasa-biasa aja karena terlalu seringnya muncul lewat tayangan ftv. Semacam pantai yang berpasir putih dengan deretan kursi berpayung putih buat leyeh-leyeh. Itu aja.

Sampai suatu hari, saya dapat kesempatan mengunjungi Dreamland secara langsung. Wow, langsung koprol 10 kali. Hehe, oke abaikan. Yang barusan tadi memang berlebihan. Skip.

Bali Menjangan Island, an Underwater Heaven



5 c o m m e n t s

Melanjutkan cerita perjalanan sebelumnya ¾yang kali ini rupanya cukup menguras energi positif bagi saya untuk tetap konsisten nulis lanjutannya¾ kami ber-empat masih berada di Labuhan Lalang dalam persiapan menuju Pulau Menjangan, surga bawah laut buat para penyelam seperti kami *uhukk, keselek biji salak. Kalau lihat di peta, lokasi pulau berada di sebelah barat laut Pulau Bali, tepatnya persis di sebelah utara Taman Nasional Bali Barat (West Bali National Park) dan termasuk bagian dari desa Sumber Klampok, kecamatan Grokgak yang berjarak sekitar 76 km arah barat dari kota Singaraja. Nah, untuk mencapai pulau Menjangan tersebut kami harus naik kapal dulu selama 30 menit dari Labuhan Lalang. Jadi, kami siap-siap dulu dong buat melaut. Jreng jrengg... *drumrolls 

Menunggu itu Menjemukan, Brader

Rupanya tiket snorkling yang sudah tersimpan rapi dalam genggaman bukan jaminan bisa langsung berangkat. Kami diminta untuk menunggu rombongan berikutnya ¾dan parahnya belum datang¾ yang nantinya bakal gabung dalam rombongan kecil kami dalam satu kapal. Whoah, if I could skip this situation..

"Phipi, tunggu pak Nyoman dulu yah, 30 menit lagi sampe.

Bapak yang ngasih peralatan snorkle tadi tampak bicara ke sepupu saya. He, lucu juga ya Fifi dipanggilnya Phipi. Emang iya sih, dia ini berpipi chubby, hhihi.. #salah fokus *dan semenit kemudian ditabok Fifi (ouch). Sejurus kemudian, Bapak ¾yang saya lupa namanya¾ itu sudah menyambut rombongan turis asing lain dan tampak bersiap-siap menuju kapal, mengantarnya berkeliling Pulau Menjangan, sementara kami ¾turis lokal¾ dipaksakan menunggu dulu, entah siapa yang namanya pak Nyoman itu. Alamak, mau liburan di negeri sendiri aja susah bener ya? #ppfftt 

White Sandy of Bali Nusa Dua Beach



0 c o m m e n t s
Voila, the white sands of Nusadua private beach, Bali INDONESIA.
Escaping from the frenetic world outside, indulge in the well-being of mind and body, and relaxing over the white sands under the sun of the Nusadua beach, was such a magnificent weekdays I spent. Stayed over 9 (nine) nights in Nusadua Beach Hotel for doing some important official works, it has a fantastic beach with tranquil, warm, and glimmering sea water. Scattering not far from the foreshore, some white benches with blue coated fabrics lined up neatly. Just tried to lay over there and stared overawed to the tourists whose taking breath away. I and my friends were hasty toward the water, bursting exaggeratedly broke the calmness of the sea without waves. We swarmed around the sands, half-buried body, and built a sand palace. Whoosah...

Penimbangan Beach: a lovely sunset from North Bali



4 c o m m e n t s
my first step ^_^


SUNSET,
WHEN A PICTURE SPEAKS A THOUSAND WORDS
WHEN A MANTRA BEGINS TO BUBBLING
I HAVE BEEN DROWNED INDEED

photo credit: Fifi
the magnificent of Penimbangan temple
 a lovely bike which carried me here
quiet, clean, and neatly  *tumb up
having a glass of cappuccino and a roasted corn *slurp :')

SINGARAJA, Juni 16th 2012
Part of itinerary that I already plan before

love love love,

Lovina: Chasing the Dolphins



2 c o m m e n t s
dolphin monumen
"Gud mowniiiiing, Singaraja..."

Wohho, last day I stay here. Time to wake (so) early and go straight to the impressive Lovina beach, 12 km stretch of coast to the North West of Singaraja that comprosed of several narrow stretches of black volcanic sand. We are going to this lovely beach for dolphins searching ¾and chasing¾ with a boat trip out in a traditional jukung boat (kind of a wooden boat) during the sunrise time. And yess, in every morning they gather: the sight of the sunrise blended with the dolphins leaping out of the sea. How awesome!!

So, let me tell you the story. Accompanied by my cousin, Fifi, sekitar pukul 7 lewat 20 menit (wita) kami berdua sudah berada di atas jukung, siap mengejar lumba-lumba. Ya, menurut sepupu saya yang kebetulan tinggal di Singaraja ini, untuk bisa melihat lumba-lumba dengan jelas itu kita harus benar-benar mengejarnya (dengan sampan tentu saja), kecuali kalau kita pas lagi beruntung, salah satu atau dua dolphin bisa mendadak loncat di samping sampan. Horee. Dalam hati saya berdoa, semoga pagi ini kami termasuk dalam golongan yang beruntung itu. Amiin :)  

"Hi, dolphins... I'm comiiiing. Please, don't hide!!

Kami bertiga (Fifi, Bli si kapten sampan, dan saya) melaju dalam satu jukung mengarah ke tengah lautan. Oya, dalam sampan kami sebenarnya bisa dinaiki 5 hingga 6 orang. Tapi, berhubung kami lagi maruk dan kenyataannya sudah booked pada malam sebelumnya, jadilah sampan itu kami naiki sendiri. Puas-puas deh bisa jumpalitan di sampan, hhihi. Untuk sampan ini kami sewa cuma 80rb buat berdua. Harga sewa yang sangat worth it kalau melihat dari harga sewa sampan yang rata-rata berkisar antara 60rb hingga 80rb per orang. Waoww.. mata saya yang sudah besar makin melebar. Bukan karena menawar, rupanya sepupu saya sudah sengaja kenal baik dengan pemilik sampan yang saat itu kami naiki. Dan, asyiknya lagi ngga ada batasan waktu, mau sejam, dua jam, atau lebih ngga ada masalah. Cihuy banget yaa.. ^^

Tenau: captured the sunset



0 c o m m e n t s
Tenau & the sunset
What an evening !!
Having visited Kupang for the second time, I finally approached the sunset.
Jadi, setelah acara berkunjung saya ke Kupang untuk yang pertama kalinya dulu kala itu (pertengahan 2010), I had a chance to visit those city of love a year later. Cihuyy... ^^

Ps:
Fotonya pake kamera blackberry 9780, nggak nyangka kalo hasilnya bisa sekeren gini, hhihii.. :p *muji sendiri

2012th New Year's Kiss Bye from Sawarna (2)



0 c o m m e n t s


1 Januari 2012
Perjuangan hebat untuk sekedar bisa mengunjungi tempat ini, Pantai Laguna PariKami harus tracking dulu menyusuri perkebunan dengan kondisi jalan yang curam dan licin, pantai yang ratusan meter jauhnya, dan karang-karang yang cukup terjal. Dua kilometer kami lalui dengan membiarkan terpaksa kulit terpanggang matahari yang (masih) terik. Dan, yah nggak ada perjuangan yang sia-sia kan ya? Kami tiba di laguna dengan selamat, hehe.. Parahnya, kami langsung pesan kelapa muda segar di warung (satu-satunya) persis tepi pantai, dan masing-masing pesan sebutir besar :D *slurp*

Oya, karena kondisi air lautnya yang tenang, pantai Laguna Pari dijadikan tempat bagi nelayan Dusun Gempol bagian dari Desa Sawarna untuk melabuhkan perahu. Makanya karena kecapekan tracking pas mau balik lagi ke homestay yang berjarak 2 km, kami sepakat untuk menyewa perahu. Cihuy, melaut lagi. Tambah senangnya lagi karena kami melewati Pantai Tanjung Layar lagi, yeiyy. Sayangnya, begitu perahu menepi di Pantai Ciantir, saya turun paling terakhir, dan... yang terjadi kemudian adalah saya terjatuh keterjang ombak. Hiks.. lupa kalau ombak pantai Ciantir itu sadis. Siang hari pula.


Beberapa jam sebelumnya. Setengah perjalanan menuju Laguna Pari dengan panas terik yang menyengat kami lalui dengan menyusuri Pantai Karang Tareje, pantai berkarang yang membentang sepanjang Laguna Pari hingga Pantai Sepang. Di pantai ini terdapat banyak cekungan karang yang membentuk kolam di celah-celahnya. Selain berisi air, cekungan-cekungan tersebut juga dipenuhi ikan-ikan kecil. Lucuuu... ^^

Oya, kenapa dinamakan Karang Tareje karena saat menyusuri pantai tersebut, pada titik tertentu kita harus menaiki 'tareje' dalam bahasa Sunda artinya tangga― yang terbuat dari kayu agar kita bisa menaiki karang tersebut dan melanjutkan eksplorasi menuju pantai berikutnya. Selain itu, bentangan karang yang menyerupai trap atau undak-undakan juga menjadi alasan penamaan pantai ini.

While, Lagoon Pari, it's such a hidden paradise. Tidak seperti Pantai Ciantir dimana gelombangnya cukup tinggi dan (katanya) ganas, di Laguna Pari airnya sangat tenang sehingga kita bisa bebas berenang di laut lepas. Saya sih cukup jadi penontonnya aja sambil duduk-duduk di cakruk, tempat duduk dari bambu yang (biasanya) diapit diantara 2 (dua) pohon.

Yang sedikit saya sesalkan selama di laguna ini adalah kami gagal menangkap sunrise. Lokasi pantai yang berada di sisi timur menjadikan kawasan ini sangat ideal untuk melihat matahari terbit. Nah, malam sebelumnya, kami beberapa orang di homestay sudah berencana untuk berangkat sebelum subuh biar kami bisa menikmati sunrise di Laguna Pari. Toh rencana tinggal rencana. Nyatanya kami baru berangkat jam 8 pagi, hhaha.. gimana bisa catching the sunrise kalau giniiih? Yang ada mah matahari sudah berada tepat di tengah ubun-ubun kepala. Panasnya bener-bener nggak nyante. Tapi yang jelas, kami kehilangan semburat jingga keemasan untuk kedua kalinya. Kecewa.

Terlebih pas kami balik ke Jakarta sore harinya. Mobil elf dari travel agen yang kami tumpangi macet dan bahkan nggak cukup kuat buat nanjak. Alhasil kami diminta turun dari mobil dan terpaksa harus jalan kaki menaiki tanjakan sejauh 200 meter. Mana saya kepisah lagi sama Dul A dan Dul H. Belum lagi kalo keinget AC yang bocor. Arghh, kecewa kuadrat. Note to self aja sih, itu travel agen nggak recomended banget. Bangettt!!

2012th New Year's Kiss Bye from Sawarna (1)



0 c o m m e n t s
"Morniiiing, SAWARNA..."
Pagi-pagi sekitar pukul setengah enam, 31 Desember 2011 itupun mundur dari jadwal itinerary gegara mobil yang kami tumpangi ketemuan dulu sama pohon tumbang di jalanan― kami tiba di desa Sawarna dengan tampilan lusuh, mata jeruk, muka bantal ileran, plus belum mandi. Perfect morning!!

Dan, baru juga kaki menginjak tanah setelah semalaman terkungkung di mobil elf dengan kondisi AC nya yang bocor dan sukses bikin kami kegerahan sepanjang perjalanan dari JakartaBantenMalimpingBayah– Sawarna bukannya kalung bunga yang didapat, kami justru langsung disambut dengan ehm... jembatan kayu gantung yang lebarnya cuma 1 (satu) meter! Cakeeb, alhasil dengan mata terkantuk-kantuk saya mencoba melewati jembatan kayu itu dengan kaki meraba-raba papan kayu dan kedua tangan yang pegangan super kenceng di kedua sisi tali tambangnya karena landasan jembatannya yang berayun-ayun. Dan perjuangan yang susah payah dan sekuat tenaga itu pun menorehkan hasil yang gemintang. Saya berhasil melewatinya, yeiyy... *loncat-loncat kece½*buruan jalan, woii, antrian masih panjang tuh di belakang -__-

Nikmatnya semilir angin Batu Hiu




Batu Hiu, Ciamis - Jawa Barat
Sepulang dari Batu Karas, kami melanjutkan perjalanan tanpa destinasi. Fyuh, kemana lagi ya? Entah darimana awalnya, dengan mengandalkan ketajaman indra menguping kami dari wisatawan sebelah tercetuslah ide untuk mengunjungi pantai Batu Hiu. Selain di antara kami bertiga belum ada yang pernah mengunjungi pantai tersebut, lokasinya juga searah dengan kami. Setali tiga uang, akhirnya nyampai juga di pantai yang bagi kami masih antah berantah itu.

Terletak di desa Ciliang kecamatan Parigi, kurang lebih 14 km dari Pangandaran ke arah selatan. Kami disambut sebuah gua berbentuk kepala Hiu besar lengkap dengan gigi-giginya yang runcing dan tajam. Itulah pintu masuk utama pantai Batu Hiu. Begitu langkah kaki kami menapaki ujungnya satunya, sebuah pantai berpasir hitam yang menghadap ke samudera Hindia terhampar di depan mata. Cihuy, saatnya main-main air laut lagi. Nyatanya, kali ini kami harus ekstra hati-hati. Kenapa? Karena banyak sekali ubur-ubur yang berserakan di pasir. Ugh, sial.


Rupanya di sisi pantai Batu Hiu ini juga terdapat semacam tebing karang menjulang berdampingan. Kami mencoba melewati tengahnya. Kecewa, makin ke sana karangnya makin curam dan sempit. Tertatih-tatih kami balik arah. Akhirnya, kami mencoba naik ke satu-satunya bukit di situ. Aih, panorama di sini cantik sekali karena dihiasi tumbuhan Pandan Wong, yang semula saya kira adalah pandan wangi. Mau duduk-duduk sembari baca buku favorit atau sekedar menikmati belaian angin menerpa muka kita, silakan datang ke sini. Selain itu, kita juga bisa menatap lepas ke arah pantai menyaksikan keindahan birunya air laut meliuk-liuk diantara gulungan ombak yang besar, ciri khas pantai-pantai selatan. Nah, karena adanya ombak yang besar inilah kenapa saya sama sekali tak menemui satu orang pun yang berenang di kawasan ini. Forbidden!!

Oya, menurut cerita penduduk setempat, dulunya di ujung bibir pantai yang mengarah ke laut terdapat karang yang sangat mirip dengan ikan hiu. Sayangnya, gara-gara terkikis ombak pantai yang ganas lama-kelamaan wujudnya tidak menyerupai ikan hiu lagi. 

show off dengan baju barunya masing-masing :)

INFORMASI BIAYA:
Berikut harga tiket yang diterapkan di objek wisata Batu Hiu per November 2010
  • Pejalan kaki Rp. 2.500,- 
  • Sepeda motor Rp. 5.900,-
  • Kendaraan jenis jeep/sedan Rp. 14.200,-
  • Kendaraan jenis carry Rp. 27.200,-
  • Kendaraan penumpang besar Rp. 40.200,-
  • Bus kecil Rp. 52.700,-
  • Bus sedang Rp. 79.500,-
  • Bus besar Rp. 130.500,-

Batu Karas: Konon, Surga bagi Peselancar



0 c o m m e n t s

Gegara gagal berputar-putar mengelilingi Green Canyon yang rupanya hari dimana kami datang ke sana justru ditutup akibat hujan lebat pada malam sebelumnya, kami pun lanjut ngetrip ke pantai Batu Karas, pantai yang belum sekalipun kami dengar namanya. Akhirnya, dengan mengandalkan google maps yang sinyalnya hidup enggan mati pun tak mau, sampailah kami di pantai tersebut.

Terletak kurang lebih 40 km dari Pangandaran atau membutuhkan sekitar 1 jam perjalanan dari Pangandaran, pantai Batu Karas boleh dikata salah satu surga bagi peselancar. Benar juga sih, begitu kami sampai di sana, Batu Karas nyatanya lebih dari sekedar perpaduan pantai yang cantik dan harmonis yang tidak hanya menawarkan air yang yang tenang tetapi juga gelombang yang menantang, sehingga cocok buat berenang atau berselancar. Pantai ini juga punya semacam teluk kecil yang landai sehingga memudahkan peselancar nggak perlu capek-capek lagi mendayung papan selancarnya menuju titik awal gelombang.



Oya, di sini bukan hanya berselancar aja yang bisa dinikmati. Buat saya yang nggak bisa selancaran, boro-boro main selancar, renang aja nggak bisa masih bisa menikmati atraksi lain. Mau pilih mana, ada permainan jet ski, banana boat, atau naik kuda sepanjang pantai. Kalo nggak minat? Tabok, hehe. Silakan leyeh-leyeh di warung-warung tenda pinggir pantai, seperti yang dilakukan oleh teman saya saat kami (saya dan satu teman saya yang lain) sedang asyik bermain air.

Apa rasanya kalau Green Canyon ditutup?



0 c o m m e n t s
Setelah perjuangan mendapatkan penginapan di kawasan pantai Pangandaran dan akhirnya kami bisa tidur lelap, sesuai dengan planing awal kami akan melanjutkan trip ke Green Canyon. We're soooo excited lah ya, secara kami bertiga belum pernah ke tempat tersebut sebelumnya. Keriaan memecah. Sepanjang jalan, Benkur terus-terusan senandungin lagu-lagunya Bob Marley. Fany sibuk dengan kamera poketnya, sementara saya asyik merhatiin orang-orang yang lagi khusyuk main layang-layang di sepanjang pinggir pantai. 


Begitu nyampe Green Canyon, kami langsung dibuat hopeless. Gimana nggak, begitu mau beli tiket di loketnya udah terpampang tulisan yang pake kapital dan di-bold: TUTUP. Begitu menengok ke arah sungai besar yang nantinya akan kami lewati menuju kawasan Green Canyon, baru deh ketauan alasannya. Beberapa perahu dibiarkan terombang-ambing dalam tambatan tanpa terlihat ada pemiliknya. Air sungai yang biasanya berwarna ijo bening nan jernih, pada saat kami datang justru berwarna coklat dan nyaris meluap. Speechless.. 


Pangandaran: Lost Trip



0 c o m m e n t s
nekat berangkat tanpa destinasi

Sepertinya satu keniscayaan ya, bisa menghabiskan libur 3 (tiga) hari tanpa aktivitas keluar rumah. Belum lagi harus mengatasi perasaan gelisah, susah tidur, dan jantung yang berdebar-debar parah begitu ketemu kalender yang di-bold warna merah. Iiish, tanda-tanda mulai terjangkit trip addicted. Nah, daripada penyakit makin kumat nggak ada juntrungannya finally saya yang (memang sudah lama) punya planing untuk ngetrip ke Green Canyon, Jawa Barat terpenuhi juga ketika libur perayaan Waisak. Horrey, dan nyatanya saya nggak sendiri. Ada 2 (dua) temen kantor yang menemani, Bengkur dan Paneh. Sebelumnya, si Bengkur ini juga pernah ikutan pas saya lagi ngetrip ke pulau Tidung.
"Ah, dari pertama kenal lu maunya juga ngikut mulu, Benk.
Cuma ke toilet doang yang nolak..."  LOL


Jadi, kami sepakat berangkat siang hari selepas dzuhur dari Bekasi. Kemudian, entah kenapa sepertinya istilah 'nyasar' selalu erat melekat dalam daftar kamus perjalanan saya. Coba aja, masa begitu keluar dari tol Cipularang kami udah nyasar. Salah ambil jalur. Yeiks, beruntunglah kami segera sadar kalo mobil kami salah arah, jadi bisa secepat itu pula kembali ke jalan yang benar.

[Photo]: Tidung and the Love Bridge



0 c o m m e n t s


















Location: 
Jembatan Cinta, Pulau Tidung
Kepulauan Seribu - DKI Jakarta




Tidung Island: Behind the Joy



0 c o m m e n t s
Yess, this is the joy..!! I thought it in the very-very first time. Such an another journey of backpacking sabtu-minggu. Seruuu secara ini baru pertama kalinya buat kami.. ehm.. sebentar sepertinya ada yang aneh dengan kata 'kami' ini *dilirik massa*. Okay, fine! This is the joy because it's my first trip to Kepulauan Seribu (a thousand island). So, I was sooo excited along the trip sampai akhirnya saya harus mengalami beberapa kejadian luar biasa di sana. Euww...  :'( 

and the joy has just begun... 

Itu tadi keseruan kami eh saya yang pertama, pertama kalinya saya bisa mengunjungi kepulauan seribu. Certainly, it's a honor for me.. (*dadah-dadah a la miss endonesiah). Tapi, sepertinya keseruan saya itu ga sebanding dengan munculnya kejadian-kejadian naas – istilah saya untuk mengalihkan kalimat 'peristiwa memalukan'  yang datangnya bertubi-tubi kemudian. 

Firstly, pada saat mau menuju ke kapal yg kami tumpangi, mungkin karena saking excited-nya saya yg ambil posisi jalan paling depan (huehe, serasa komandan regu saya), tatapan juga ke depan, hup huup... saya lompat-lompat kecil berusaha menghindari genangan air sisa hujan semalam dan akhirnya... arrrrgghh... saya terjatuh, terpeleset, dan terjungkal pas di jembatan dermaga pantai Marina dimana lokasi itu sangat strategis buat ditonton #pfftt (kombinasi yg embarassing sekali kan yaa, terlebih saat saya menyadari berpasang-pasang mata pasti melihat adegan saya jatuh tadi dan saat itu sedang berusaha menyembunyikan tawanya). Dan seandainya kejadian tadi itu dibuat slow motion, saya pasti langsung bertanya: kenapa hidup saya pagi itu naas sekali, Tuhan? Dan Tuhan (barangkali) akan menjawab: makanya punya badan jangan kegedean.. -___-

"Makanya mba, kalau jalan itu pake mata," saat saya sudah tersungkur dan terpuruk pun, bukannya nolongin eh si Bemboy malah sempat-sempatnya kasih nasehat yang untuk saat itu sedang sangat tidak saya butuhkan. Pake nyengir lagi. "Ini jalannya juga pake mata kalee, mata kaki." *skip*

the one & the only jeans bonus noda lumut :(

Pokoknya mood bergembira ria langsung ilang deh hanyut di air laut, begitu mikirin nasib saya di sana gimana nantinya. Lah siapa yang ga bete coba, secara jeans yang melekat di badan saya itu the one and the only jeans yang saya bawa (namanya juga backpacker kan?). Lebih-lebih pas ngeliat kondisi jeans yang begitu basah, lembab, dan banyak noda lumut di sana sini. Err, kalo bisa renang, udah nyelem deh saya :'(
older post